Selasa, 14 September 2010

MANAJEMEN DAN PENYAKIT HEWAN LABORATORIUM

I. Pendahuluan Hewan Laboratorium

Hewan laboratorium atau hewan percobaan istilah ini sering kita dengar dan tidak asing ditelinga kita. Sebenarnya apa itu hewan Laboratorium, hewan laboratorium adalah hewan yang dipelihara dan dapat menempati ruang untuk digunakan sebagai penelitian. Sebagian peneliti membagi hewan laboratorium menjadi dua kelompok besar yaitu hewan laboratorium spesies besar dan hewan laboratorium spesies kecil. Contoh hewan laboratorium spesies besar antara lain anjing, kucing, kambing dan domba, sedangkan contoh spesies hewan laboratorium kecil yang lazim digunakan antara lain : Mencit, tikus, hamster, cavia (marmut), gerbit dan kelinci. Pemilihan hewan laboratorium biasanya didasarkan pada tujuan penelitian yang akan di lakukan.
Beberapa prinsip pemeliharaan hewan laboratorium :
1. Lingkungan :
• Hewan lab. Sensitif terhadap perubahan temperatur dan kelembaban
• Normal 300 C (mencit, tikus, marmut), 200 C (hamster), 25-280 C (kelinci)
• Ventilasi perkandangan yang baik
• Mengetahui kebutuhan fisiologis masing-masing spesies hewan lab.
• Lingkungan yang tenang
2. Status kesehatan
• tujuan pengecekana atau pemeliharaan kesehatan adalah untuk menjaga peforma dan perkembang biakan hewan lab, minimal 95% menngkat dan mampu bertahan sampai dewasa.
• Dilakukan dengan cara pemeriksaan kesehatan rutin.
3. Staff
• Kesehatan dan upah serta memiliki pengetahuan dan ilmu yang terkait dengan hewan lab dan diberi pelatihan khusus untuk penelitian-penelitian tertentu.
4. Kontrol makan dan minum
• Setiap spesies memiliki susunan ransum yang berbeda
5. Kontrol manajemen
• berhubungan dengan jumlah yang akan diproduksi, waktu serta sistem perkawinan, persediaan pakan dan pembuangan limbah.
6. Kontrol kualitas hewan
• Terbebas dari penyakit
• Permintaan pasar (Germ Free, SPF)

Istilah-istilah yang sering digunakan dalam hewan laboratorium :

Germ Free : Bebas dari segala macam mikroorganisme. Yang sering dipakai adalah Cavia, kelinci dan hamster jarang di pakai karena lebih peka dan lebih cepat mati. Untuk Fowl yang sering dipakai adalah telur embrio tertunas (TET). Untuk mamalia yang sering dipakai adalah jenis primata.

Konvensional : Ruang mikroba flora normal. Dalam tubuh terdapat flora normal tapi tidak teridentifikasi.

Gnotobiotik : bisa mengandung satu atau lebih mikroorganisme dan harus tahu mikroorganismenya dan dapat juga bersifat atau berupa germ free. Untuk tes gnotobiotik dapat digunakan salmonella dan telur ayam tertunas SPF. Gnotobiotik dapat bersifat monobiotik, dibiotik dan polibiotik. Bisa germ free bisa juga 1 atau lebih mkroorganisme dan diketahui mikroorganisme apa saja. Dalam pemeliharaannya, harus memperhatikan
a. Ruangan yang steril
b. Udara didalam lebih tinggi
c. Memiliki fasilitas pemberian pakan eksternal
d. Peralatan dan perlengkapan kandang yang steril.
e. Hewan yang keluar masuk dikontrol

Specific Pathogen Free (SPF) : Bebas dari patogen spesifik tertentu misalnya research tentang primata yang digunakan harus bebas dari TBC, contoh lain adalah telur tertunas dalam pengujian salmonella dan AI. Ada flora normal tetapi bebas pathogen tertentu.

Produksi
Hewan gravid tua dibedah secara cesar dalam keadaan steril kemudian di masukan flora normal tertentu yang sudah diketahui (tidak membahayakan) dalam isolator. Maka akan terbentuk sistem kekebalan dan dipelihara untuk bebas pathogen tertentu. 2 hal penting yang perlu dimonitoring :
1. kondisi/monitoring mikrobiologi : GN  monitor mikroba apa saja yang dimasukkan, SPF  monitor pathogen spesifik yang diinginkan, bila terjadi kelainan, maka sebaiknya diafkir.
2. monitor genetik

Makanan
• Harus bebas parasit, mikroorganisme dan pathogen
• Harus di steril sebelum diberikan
• Juga bebas parasit
• Sterilisasi pakan : pasteurisasi 70-80O C, autoclave atau membunuh spora. Pemanasan 134O C dengan temperature singkat.
• Sterilisasi pakan lebih baik dengan temperature tinggi dan dengan waktu yang pendek.
• Menggunakan radiasi, hasil lebih baik namun keamanan yang mengoperasikan harus diperhatikan.
• Komposisi pakan, harus ditambahkan vitamin K dan B12, cavia penambahan vitamin C.









II. Hewan-hewan Laboratorium spesies kecil

Hewan laboratorium spesies kecil yang sangat sering digunakan antara lain sebagai berikut :
1. Mencit (Mus musculus)
• Paling ekonomis karena murah, mudah dirawat dan banyak anak
• Mudah ditangani
• Merupakan hewan coba yang paling banyak digunakan (> 50%) oleh ahli immunologi, genetika dan onkologi
• Banyak inbreed strain dari mencit yang digunakan untuk penelitian penyakit penting.
• Aplikasi di laboratorium :
i. Digunakan dalam uji-uji imunologi
ii. Penelitian tentang kanker
iii. Penelitian dan pengujian diabetes
iv. Kajian tentang Kelainan darah
v. Penelitian mengenai obesitas (kegemukan)
• Data fisiologis mencit
Data biologik Normal Mencit
Konsumsi pakan per hari 5 g (umur 8 minggu)
Konsumsi air minum per hari 6,7 ml (umur 8 minggu)
Diet protein 20-25 %
Ekskresi urine perhari 0,5-1 ml
Lama hidup 1,5 tahun
Bobot badan dewasa jantan 20-45 g
Bobot badan dewasa betina 20-40 g
Bobot lahir 1-1,5 g
Dewasa kelamin (jantan=betina) 28-49 hari
Siklus ekstrus (menstruasi) 4-5 hari (polyestrus)
Umur sapih 21 hari
Mulai makan pakan kering 10 hari
Rasio kawin 1 jantan- 3 betina
Jumlah kromosom 40
Suhu rektal 37,5 0C
Laju respirasi 163
Denyut jantung 310-840 X/mn
Pengambilan darah maksimum 7,7 ml/Kg
Jumlah sel darah merah 8,7 – 10,5 X 10 6 /μl
Kadar haemoglobin 13,4 g/dl
Pack cell volume (PCV) 44 %
Jumlah sel darah putih 8,4 X 10 3


2. Tikus (Rattus musculus)
• Memiliki banyak anak, mudah dipelihara, ukuran badan lebih besar dibandingkan dengan mencit.
• Mudah ditangani
• Aplikasi di laboratorium:
i. Latihan pembedahan / tehnik bedah
ii. Sumber serum komplemen
iii. Banyak dipergunakan oleh ahli toksikologi dan ahli farmakologi
• Data fisologis Tikus
Data biologik Normal Tikus
Konsumsi pakan per hari 5 g/ 100 g bb
Konsumsi air minum per hari 8-11 ml/100 g bb
Diet protein 12 %
Ekskresi urine perhari 5,5 ml/ 100 g bb
Lama hidup 2,5-3 tahun
Bobot badan dewasa jantan 300-400 g
Bobot badan dewasa betina 250-300 g
Bobot lahir 5-6 g
Dewasa kelamin (jantan=betina) 50±10 hari
Siklus ekstrus (menstruasi) 5 hari (polyekstrus)
Umur sapih 21 hari, 40-50 g
Mulai makan pakan kering 12 hari
Rasio kawin 1 jantan- 3-4 betina
Jumlah kromosom 42
Suhu rektal 37,5 0C
Laju respirasi 85 x/ mm
Denyut jantung 350-500 X/mn
Pengambilan darah maksimum 5,5 ml/Kg
Jumlah sel darah merah 7,2 – 9,6 X 10 6 /μl
Kadar haemoglobin 15,6 g/dl
Pack cell volume (PCV) 46 %
Jumlah sel darah putih 14 X 10 3 /μl


3. Hamster (Mesocitus aucatus)
• Aplikasi di laboratorium :
i. Uji fertilitas semen manusia dengan menggunakan sel telur hamster
ii. Research tentang tumor

4. Marmut atau cavia (Cavia porcelus)
• Jumlah anak lebih sedikit dibandingkan dengan tikus
• Aplikasi di laboratorium :
i. Sumber komplemen
ii. Uji-uji imunologi

5. Kelinci (Orycytolagus rariculis)
• Aplikasi di laboratorium :
i. Reproduksi
ii. Sumber komplemen
iii. Research tentang teratologi
iv. Sebagai produksi anti serum (intravena didaerah telinga untk menghasilkan serum yang diinginkan)

• Data fisiologis kelinci
Data biologik Normal Kelinci
Konsumsi pakan per hari 100-200 g
Konsumsi air minum per hari 200-500 ml
Diet protein 14 %
Ekskresi urine perhari 30-35 ml
Lama hidup 5-7 tahun
Bobot badan dewasa jantan 4-4,5 Kg
Bobot badan dewasa betina 4,5-6,5 Kg
Bobot lahir 30-100 g
Dewasa kelamin jantan 5-6 bulan (4,5 Kg)
Dewasa kelamin betina 6-7 bulan (4 Kg)
Siklus ekstrus (menstruasi) (polyekstrus) diinduce
Umur sapih 16-18 hari
Mulai makan pakan kering 35-42 hari
Rasio kawin 1 jantan- 6-10 betina
Jumlah kromosom 44
Suhu rektal 39,5 0C
Laju respirasi 51 x/ mm
Denyut jantung 200-300 X/mn
Pengambilan darah maksimum 7,7 ml/Kg
Jumlah sel darah merah 4-7 X 10 6 /μl
Kadar haemoglobin 10-15 g/dl
Pack cell volume (PCV) 33-48 %
Jumlah sel darah putih 5-12X 103




III. Produksi Hewan Laboratorium

Produksi hewan lab didapat melalui Inbreed stock dan Outbreed stock. Outbreed stock adalah hewan yang secara genetik tidak identik / tidak seragam, dimana perkawinan/ persilangannya dilakukan secara asal-asalan. Contoh : Wistar routs, Swiss mice, CFW, MIH. Inbreed stock adalah hewan yang secara genetik identik/ seragam, dimana perkawinan/ persilangannya dilakukan secara teratur dan terencana. Contoh : Balb/c.

Keuntungan dan kekurangan Outbreed dan Inbreed :
Keuntungan Kelemahan
Outbreed stock • Daya adaptasi tinggi
• Relatif tahan penyakit
• Jumlah anak banyak
• Tidak memerlukan tempat khusus untuk memelihara
• Murah dan mudah didapat
• Biasa digunakan untuk praktikum biologi dan kedokteran • Hasil penelitian dengan menggunakan outbreed stock belum bisa diakui secara internasional, karena secara genetik tidak sama.

Inbreed stock • Isogenitas  secara genetik sama
• Homozigositas  sifat resesif tidak muncul
• Secara fenotipik seragam
• Stabilitas dan keseragaman bertahan lama
• Mudah teridentifikasi
• Sensifitasnya tinggi
• Inbreed distribusinya berskala internasional
• Standarisasinya terjamin • Harga relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan outbreed stock

Sistem pemeliharaan Outbreed stock dan Inbreed stock adalah sebagai berikut :
Outbreed stock :
- Tidak memerlukan tempat khusus.
- Kita bisa saja membeli 2 induk yang sembarangan yang penting sehat.
- Tempatkan kedua induk tersebut dalam 1 kotak.
- Makanannya tergantung spesies, air harus selalu dikasih pada tempat tersebut.
- Suhu lingkungan dari hewan tersebut harus selalu dijaga.
- Perhatikan kesehatannya, serta pada saat beranak setelah cukup umurnya pisahkan anak dari hewan/induknya tersebut.
- Monitoring kualitas hewan secara berkala.
- Biasanya hewan-hewan outbreed banyak mempunyai anak.

Inbreed stock :
- Jika kita ingin mendapatkan bibit inbreed dari outbreed kita bisa mengawinkan minimal 20 kali dengan saudaranya.
- Bibit dari inbreed harus selalu diperhatikan kemurniannya.
- Harus selalu dijaga suhu lingkungannya.
- Temperatur 300c pada mencit, tikus, marmut,dan 260 -300 c pada kelinci.
- Jumlah amoniac harus selalu diperhatikan karena dapat menyebabkan vertilitas.
- Kualitas hewan harus diperhatikan, seperti berat badan dan bebas dari penyakit.

Metode-metode mengawinkan hewan laboratorium
Outbreed stock
Untuk mempertahankan Outbreed stock kita harus memperhatikan faktor genetik pergenerasi harus dari 1% tingkat inbreeding, tingkat inbreeding tergantung pada jumlah hewan dan schedule perkawinan.Contoh perhitungan tingkat inbreeding : 48 hewan jantan 10 ditambah 1/8 hewan betina 20. 1 generatio = 1 (8 x 10) + 1 (8 x 20) – 3/100 – 0,02 = 2%. Sedangkan peraturan internasional harus < 1% dapat dilakukan dengan 2 cara :
1. Jumlah hewan ditambah.
2. Menjaga inbreeding secara maximum dengan cara :
- Memilih hanya 1 jantan untuk perkawinan berikutnya (tidak sesama saudaranya).
- Sistem perkandangan 1 jantan, 1 betina / 1 jantan, 5 betina.

Untuk mempertahankan inbreed stock :
- Untuk menjaga terjadi mutasi / perubahan genetik, serta kontaminasi genetik.
- Mengawinkan terus sesama betina saudara.
- Harus punya stock utama ( fondation stock ) hanya kawin antar saudara dan jumlahnya ditentuin tetap terus-menerus dengan memilih anakan beberapa ekor untuk dikawinkan sesama saudara selebihnya dipisahkan dan boleh kawin acak.
- Harus punya skema kawin tergantung jenisnya :
1. Kelompok kawin permanen
jantan X 1 betina + banyak anaknya. Dengan meletakkan 2 x 1 jantan dengan 5 betina di dalam 1 kotak dan tidak dipindahkan sampai beranak-pinak.
2. Sistem Horem.
1 jantan umur 4-8 bulan. Dengan menggandakan jantan dan betina dan jika beranak pisahkan dengan pejantan.
3. Kawin Manual.
Kawin manual adalah perkawinan dengan bantuan, biasanya dilakukan pada kelinci, kelemahannya adalah kita harus benar-benar mengetahui fisiologis khususnya masa estrus dan ovulasi kelinci.
4. Inseminasi buatan (IB). Jarang dilakukan kecuali hewan langka karena tidak ekonomis.






























IV. Tehnik-tehnik hewan Laboratorium

Tehnik- tehnik yang sering digunakan pada hewan laboratorium adalah sebagai berikut :

1. Mencit
a. Cara handling : untuk memegang mencit yang akan diperlakuakan baik pemberian obat ataupun pengambilan darah, maka diperlukan cara-cara khusus sehinga mempermudah cara perlakuannya. Secara alamiah mencit cenderung menggigit bila mendapat perlakuan sedikit perlakuan kasar. Pengambilan mencit dari kandang dilakukan dengan mengambil ekornya kemudian mencit ditaruh pada kawat kasa dan ekornya sedikit ditarik. Cubit bagian belakang kepala dan jepit ekornya. Disamping itu secara komersial telah diproduksi sebuah alat untuk menghandel hewan laboratorium dengan berbagai ukuran, sehingga memudahkan peneliti untuk mengambil darah atau perlakuan lainnya.

b. Penandaan (identifikasi) : beberapa cara penandaan hewan Lab. Dilakukan untuk mengetahui kelompok hewan yang diperlakukan berbeda dengan kelompok yang lain. Penandaan ini dapat dilakukan secara permanen untuk penelitian jangka panjang (kronis), sehingga tanda tersebut tidak mudah hilang. Yaitu dengan ear tag (anting bernomor), tatoo pada ekor, melubangi daun telinga dan elektronik transponder.

c. Pengambilan darah : pada umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat menyebabkan shock hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Tetapi bila dilakukan pengambilan sedikit darah tetapi sering, juga dapat menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah dilaukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan. Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari volume total darah. Contohnya : bobot 25 G, total volume darah 1,875 ml, maksimum pengambilan darah 0,1875 ml, maka pemberian exsanguination 0,9375 ml. Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tetentu dari tubuh yaitu :
i. Vena lateral dari ekor
ii. Sinus orbitalis mata
iii. Vena saphena (kaki)
iv. Langsung dari jantung. Sedangkan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran jarum adalah sebagai berikut:

IV IP IM SC Oral
Lokasi Lateral ekor Tidak direkomendasikan Belakang leher
Volume 0,2 ml 2-3 ml 2-3 ml 5-10 ml/Kg
Ukuran Jarum <25 gauge <21 Gauge < 20 Gauge Jarum tumpul 22-24 Gauge

d. Tehnik Euthanasia : dengan beberapa cara yaitu euthanasia dengan CO2, injeksi barbiturat over dosis (200 mg/Kg) IP atau dengan dislokasi maupun dekapitasi. Yang terakhir perlu keahlian khusus dan bergantung pada tujuan dilakukan euthanasia.

2. Mencit
a. Cara Handling : pertama ekor dipegang sampai pangkal ekor. Kemudian telapak tangan menggenggam melalui bagian belakang tubuh dengan jari telunjuk dan jempol secara perlahan diletakkan disamping kiri dan kanan leher. Tangan yang lainnya membantu dengan menyangga dibawahnya, atau tangan lainnya dapat digunakan untuk menyuntik.

b. Cara identifikasi : beberapa cara penandaan hewan Lab. Dilakukan untuk mengetahui kelompok hewan yang diperlakukan berbeda dengan kelompok yang lain. Penandaan ini dapat dilakukan secara permanen untuk penelitian jangka panjang (kronis), sehingga tanda tersebut tidak mudah hilang. Yaitu dengan “ear tag” (anting bernomor), tatoo pada ekor, melubangi daun telinga dan elektronik transponder.

c. Pengambilan darah : pada umumnya pengambilan darah terlalu banyak pada hewan kecil dapat menyebabkan shock hipovolemik, stress dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Tetapi bila dilakukan pengambilan sedikit darah tetapi sering, juga dapat menyebabkan anemia. Pada umumnya pengambilan darah dilaukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan. Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari volume total darah. Contohnya : bobot 300 G, total volume darah 22,5 ml, maksimum pengambilan darah 2,25 ml, maka pemberian exsanguination 11,25 ml. Pengambiln darah harus menggunakan alatyang aseptik. Untuk meningkatkan vasodilatasi, perlu diberi kehangatan pada hewan pada hewan tersebut, misalnya taruh dalam ruangan dengan suhu 40 derajat celcius selama 10-15 menit, dengan memasang lampu pemanas dalam ruangan tersebut. Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tetentu dari tubuh yaitu :
i. Vena lateral dari ekor
ii. Bagian ventral arteri ekor
iii. Sinus orbitalis mata
iv. Vena saphena (kaki)
v. Anterior vena cava
vi. Langsung dari jantung. Sedangkan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran jarum adalah sebagai berikut :

IV IP IM SC Oral
Lokasi Lateral ekor dan vena saphena Otot kuadriceps bagian belakang paha, otot lumbal Belakang leher
Volume 0,5 ml 5-10 ml 0,1 ml 5-10 ml 5-10 ml/Kg
Ukuran Jarum <23 gauge <21 Gauge < 21 gauge < 20 Gauge Jarum tumpul 18-20 Gauge

d. Tehnik euthanasia : dengan beberapa cara yaitu euthanasia dengan CO2, injeksi pentobarbital overdosis (40-60 mg/Kg) IP atau dengan ketamin/medotomidin, 60-75 mg/Kg IP. Atau dengan obat anastetika lainnya.

3. Kelinci
a. Cara handling : kadang kelinci mempunyai kebiasaan untuk mencakar dan menggigit. Bila penanganan kurang baik, kelinci sering berontak dan mencakar kuku dari kaki belakang dengan sangat kuat yang kadang dapat menyakiti dirinya sendiri. Kadang kondisi tersebut dapat menyebabkan patahnya tulang belakang kelinci yang bersangkutan. Cara menghandel adalah dengan menggenggam bagian belakang kelinci sedikit ke depan dari bagian tubuh, dimana bagian tersebut kulitnya agak longgar. Kemudian angkat kelinci dan bagian bawanya disangga. Sedangkan cara menangani kelinci perlakuan baik.
b. Identifikasi (Penandaan) : penandaan kelinci dapat dilakukan secara individu hewan ataupun kelompok. Penandaan banyak dilakukan pada daerah telinga yang berupa “ear tag” (anting telinga yang dapat diberi nomor). Dapat juga dengan tato pada telinga.

c. Pengambilan darah : Pada umumnya pengambilan darah dilaukan sekitar 10% dari total volume darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan. Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari volume total darah. Contohnya : bobot kelinci 3 KG, total volume darah 225 ml, maksimum pengambilan darah 22,5 ml, maka pemberian exsanguination 112,5 ml. Pengambiln darah harus menggunakan alatyang aseptik. Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tetentu dari tubuh yaitu
i. Bagian lateral Vena saphena (kaki)
ii. Anterior vena cava
iii. Langsung dari jantung.
iv. Arteri sentral di telinga
v. Vena jugularis. Sedangkan tempat atau lokasi untuk injeksi, volume sediaan dan ukuran jarum adalah sebagai berikut :

IV IP IM SC Oral
Lokasi Vena marginal telinga Otot kuadriceps bagian belakang paha, otot lumbal Belakang leher
Volume 1-5 ml 50-100 ml 0,5-1 ml 50-100 ml 5-10 ml/Kg
Ukuran Jarum <21 gauge <21 Gauge < 20 gauge < 20 Gauge Jarum tumpul 18-20 Gauge

d. Tehnik Anasthesia : Anasthesia dapat dilkukan secara inhalasi maupun injeksi. Anasthesia inhalasi dilkukan dengan inhalan “isofluran”. Sedangkan untuk injeksi dapat diberikan pentobarbital 20-60 mg?Kg IV dan terjadi efek setelah 1-3 jam. Beberapa obat anathesia umum juga dapat diberikan sesuai dengan anjuran. Pembunuhan (anasthesia) pada kelinci jarang dilakukan.












V. Penyakit-penyakit pada hewan Laboratorium

1. Mencit :
i. Ectromelia (mouse pox)
• Ormopox virus, penyakit ini bisa berjalan akut dan kronis.
• Bentuk akut  hewan tiba-tiba mati
• Bentuk kronis  gejala sakit lebih lama, pembengkakan di kaki dan ekor, terbentuk lesi ulceratif, erupsi pada kulit.
• Diferensial diagnosa dari penyakit ini adalah Streptobacillus moniliformis.
• Tidak termasuk zoonosis
• Advice: hewan penderita disarankan untuk dimusnahkan, bekas kandang di disinfektan kemudian baru boleh di isi kembali.
ii. Tyzzer disease
• penyakit ini disebabkan oleh Bacillus Filiformis.
• Predisposisi : kandang yang overload (terlalu padat)
• gejala yang dapat menyertai adalah diare, nafsu makan turun, berat badan turun, beberapa kemudian hewan bisa mati.
• Histopatologi : lesi pada hati yang berbentuk nodul.
• Isolasi bakteri dapat diambil dari usus dan empedu.
• Tidak termasuk zoonosis
• Advice: hewan penderita disarankan untuk dimusnahkan, bekas kandan di disinfektan kemudian baru boleh diisi lagi.
iii. Pseudotubercullosis
• agen penyakitnya ialah Corynebacterium pseudotubercullosis, Corynebacterium chultzcherri.
• Gejala nya dapat berupa sesak nafas dan kelemahan.
• Patologi anatomisnya : peradangan pada ginjal, otot, hati dan jantung. Pada oragan-organ tersebut terbentuk abses dan tuberkel.
• Tidak termasuk zoonosis.
iv. Salmonellosis :
• Salmonella Typhimurium, Salmonella enteritis.
• Gejala : diare, bulu kasar, berat badan penderita menurun, mortalitas 50-100%.
• Prediposisi : sanitasi, kandang yang tidak bersih, kontaminasi makanan dan minuman.
• Isolasi : feses dan darah. Pada hewan yang sudah mati dapat diambil hati dan limpanya.
v. Lymphocytic choriomeningitis (LCM) :
• Arena virus.
• Penularan : inta nasal, subcutaneus, lewat makanan, transplacental.
• Mencit muda  bertahap/silent/ laten bertahan sampai dewasa
• Pada hewan tua dapat menyebabkan kematian.
• Pada kejadian akut  coriomeningitis
• Gejala : pincang dan inkoordinasi gerak
• Termasuk zoonosis
vi. Epidemic diarrhea
• Causa :Rotavirus
• Hewan rentan : 7-17 hari (hewan muda)
• Gejalanya : diare, lambat laun badan penuh fese, akan tetapi tetap rakus makan, perutnya kembung, fese terkadang numpuk dirambut dekat anus.
• Mortalitas lebih kurang 50%
• Tidak termasuk zoonosis
vii. Internal Parasit
• Aspicularis tetraptera
• Syphacia obvelata
• Syphacia muris
• Trichosomoides crasicanda
• Hymenolepis diminura
• Hymenolepis nana
viii. Eksternal parasit.
• Sarcoptes scabiae
• Myobia musculi
• Mycoples spp
• Psorepgates simplex

2. Tikus :
i. Chronic Respiratory Disease (CRD)
• Causa : Mycoplasma pulmonie dan streptobacillus moniliformis
• Penyakit penting di breeding koloni
• Hewan-hewan yang bebas CRD biasanya SPF atau Germ Free
• Hewan konvensional bisa menjadi reservoir
• Gejala : batuk, radang pada paru-paru, infeksi dapat mencapai teling (tortikolitis)
• Terkadang positif CRD dapat ditemukan pasteurella Sp.
• Rambut berdiri, kusam,tidak nafsu makan, laktasi terhenti sehingga ana-anak mati.
• Sulit untuk mengontrol CRD
• Khusus CRD yang disebabkan oleh Streptobacillus moniliformis jika zoonosis menjadi penyakit “Rat Bike Fever”
ii. Salmonellosis :
• Salmonella Typhimurium, Salmonella enteritis.
• Gejala : diare, bulu kasar, berat badan penderita menurun, mortalitas 50-100%.
• Prediposisi : sanitasi, kandang yang tidak bersih, kontaminasi makanan dan minuman.
• Isolasi : feses dan darah. Pada hewan yang sudah mati dapat diambil hati dan limpanya.
iii. Coccidiosis :
• Causa : Eimeria separatan dan Eimeria miayirii
• Predisposisi : hewan yang baru dibeli dan dalam keadaan stress.
• Isolasi : fese cari Oosit
iv. Livercyst
• Cysticercosis fasciolaris pada hati
• Causa : taenia crassicolis
v. Hymenolepis diminiruta dan Hymenolepis nana
• Intermediet host : kecoak dan pinjal
• H. Nana bisa menginfeksi manusia
• Diagnosa : feses (telur)
• Pencegahan : kandang yang bersih (bebas kecoak)
• Gejala : enteritis
• Hampir sekitar 15-30 % tikus terinfeksi
vi. Parasit darah
• Biasanya tidak zoonosis
• Babesia muris
• Bordotella muris
• Biasanya menyerang tikus yang telah dipakai penelitian yang dilakukn pengambilan limpa
• Insecta punya peranan dalam siklus hidup parasitnya.
vii. Nematoda
• Cacing gilig  tidak termasuk zoonosis
• Heterakis spumosa
• Trichosomoides grassicauda
• Syphasia obvelata
• Gejala : diare, parasit dapat bermigrasi keparu-paru, VU, Ginjal dan uterus
viii. Parasit eksternal
• Sarcopes scabiae
• notoedres sp
• oktoedres sp.
3. Cavia :
i. Salmonellosis
• sama dengan mencit
ii. Coccidiosis
• agen : Eimeria caviae dan Balantidium caviae
• gejala klinis : tidak nampak pada hewan muda karena biasanya hewan muda yang terkena coccidiosis langsung mati, pada hewan dewasa gejala klinis yang sering ditemui adalah diare, anemia.
iii. Pseudotuberculosis
• tidak zoonosis
• agen : Yersinia pseudotberculosa
• ada tiga bentuk yaitu : septicemia dengan gejala klinis batuk, peningkatan frekuensi pernafasan, satu sampai 2 hari hewan mati. Bentuk yang kedua adalah bentuk kronis, gejala yang sering ditemui adalah pembengkakan limfoglandula di daerah leher dan thoraks. Bentuk yang terakhir adalah bentuk umum, gejalanya berat badan menurun, diare, pembesaran limfoglandula, 3-4 minggu hewan terseut mati.

iv. Pneumonia
• termasuk penyakit zoonosis
• agen : Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, Bordetella bronchiseptica.
• Gejala : limfoglandula membengkak, leleran mucus dari hidung (SP), nanah (K)
• Kelinci ditenggarai sebagai carrier bordetella  tidak boleh digabung dengan cavia
• Parasit eksternal  kutu Trimenopon jenningsi, Gliricola porcelli  paling sering. Gejala klinis : gatal, iritasi pada kulit, kerontokan pada rambut.
v. Penyakit lainnya yang sering diderita cavia
• defisiensi vitamin C  hipersalivasi  peningkatan pertumbuhan, sulit menelan.
• Kekurangan serat kasar (rumput, kel, gandum).
• Hipersalivasi harus dikasih makan yang kasar (slabbers)
• Keracunan antibiotika.

4. Kelinci :
1. Salmonellosis (rabbit thipoid)
2. Coccidiosis  sering terjadi, causanya adalah E. stiedae
3. Parasit  scabies, notoedres
4. Pasteurellosis
5. Tyizers : Bacillus piriformis
6. Spilis
• non zoonosis
• rabbit spilis
• causa : Treponema cuniculi, T. pallidum
• penularannya dapat melalui intra coitus.
7. Meboid enteropati
• hewan cepat mati
• biasa menyerang hewan umur 7-10 minggu
• tidak zoonosis

1 komentar: