PRINSIP – PRINSIP ETIKA PROFESI DOKTER HEWAN (PROFESI VETERINER)
Oleh :
Drh. Wiwiek Bagja (PB PDHI)
Mengenal Kedokteran Hewan (Veterinary Medicine/Medik Veteriner)
Tuhan menciptakan ekosistem yang terdiri dari manusia, flora, fauna, dan lingkungan. Dalam menempuh kehidupan, makhluk hidup tunduk pada hukum alam, yaitu saling ketergantungan (inter-dependency) dan saling keterkaitan (interrelationship). Kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan terhadap alam, yaitu mengamankan, mengembangkan dan memanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh kehidupan.
Kedokteran Hewan merupakan bidang ilmu yang hampir sama tuanya dengan kedokteran manusia. Pada awalnya ia merupakan pengembangan dari ilmu kedokteran yang memerlukan perbandingan (comparative medicine) serta memerlukan hewan coba untuk menemukan penyembuhan penyakit manusia. Profesi ini selanjutnya dikenal sebagai profesi Veteriner .
VETERINER adalah istilah di kamus bahasa Indonesia yang diartikan sebagai bidang/profesi kedokteran hewan.Dalam bahasa Inggris PROFESI VETERINER disebut sebagai VETERINARY PROFESSION.
FAKULTAS KEDOKTERAN dalam bahasa Inggris adalah FACULTY OF MEDICINE
Sedangkan FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN adalah FACULTY OF VETERINARY MEDICINE. VETERINER didefinisikan sebagai segala urusan yang berkaitan dengan
HEWAN dan PENYAKIT – PENYAKITNYA.
Secara legal formal :
PENYAKIT ditanggulangi dengan ilmu Kedokteran
Penyakit manusia oleh : Dokter Manusia
Penyakit Hewan oleh : Dokter Hewan
Hewan penting bagi kehidupan manusia dan ada 5 fakultas
Bagaimana kedudukan hewan bagi manusia terlihat dari adanya ilmu –ilmu yang khusus mempelajari dan memanfaatkan HEWAN yaitu :
Ilmu Biologi (Fakultas Biologi)
Ilmu Peternakan (Fakultas Peternakan)
Ilmu Kehutanan – Satwa Liar (Fakultas Kehutanan)
Ilmu Perikanan/Kelautan – Satwa Aquatik (Fakultas Perikanan)
Ilmu Kedokteran Hewan (Fakultas Kedokteran Hewan)
Ilmu-ilmu yang dipelajari tentang HEWAN pada 5 fakultas tersebut di atas, yaitu :
Fakultas Biologi mendalami flora dan fauna sebagai hidupan
Fakultas Peternakan mendalami hewan pangan dan hewan produksi
Fakultas Kehutanan mendalami soal hutan dan koleksi satwa liarnya
Fakultas Perikanan mendalami hewan aquatik pangan dan non pangan
Fakultas Kedokteran Hewan mendalami hewan-hewan dan penyakit-penyakitnya termasuk yang dapat mengganggu kesehatan manusia
Sebagai dokter hewan, bilamana mendalami ilmu 1 s/d 4 (tanpa pendidikan di fakultas bersangkutan) masih terbuka kewenangannya untuk menerapkan ilmu-ilmu tersebut dalam kehewanan. Tetapi lulusan dari fakultas 1 s/d 4, tidak bisa dengan otomatis menjadi dokter hewan, kecuali bersekolah dulu ke FKH karena merupakan profesi/keahlian khusus.
KEDUDUKAN ILMU KEDOKTERAN (PROFESI MEDIS)
Penyembuhan penyakit pada manusia dan hewan pada zaman dahulu dilakukan oleh dukun, orang pintar, ahli obat dan lain-lain yang tidak melalui pendidikan formal (sekolah khusus) melainkan turun-temurun atau dipelajari dari orang ke orang.
Sejak berdirinya sekolah kedokteran tertua di dunia oleh Hippocrates (di Yunani) maka lulusannya disebut sebagai “profesi penyembuh” atau “the healing profession”.
Sejak masa itu “the healing profession” adalah mereka yang lulus dari sekolah kedokteran dan melakukan tindakan kedokteran sesuai kaidah-kaidah baku ilmu kedokteran.
PROFESI VETERINER = PROFESI MEDIS
Profesi Veteriner merupakan profesi yang sangat tua di dunia yang muncul sebagai pengembangan dari Profesi Kedokteran di zaman Yunani Kuno pada 460-367 Sebelum Masehi(SM) oleh Bapak Kedokteran di dunia yaitu Hippocrates.
Metode kedokteran dan dasar-dasar filosofi kedokteran yang dikembangkan oleh Hippokrates sangat dipahami dan dihayati oleh seorang ilmuwan bernama Aristoteles (lahir 384 SM) yang menerapkannya pada penanganan penyakit-penyakit hewan.
Sejarah Kata Veteriner
Versi 1 :
Di zaman Romawi Kuno dikenal bangsa Etruscans yang sangat menyukai kuda dan sapi. Hal ini tampak dari gambar-gambar yang merupakan peninggalan kuno. Hewan pada masa itu mempunyai nilai sakral ataupun nilai martabat dan pada ritual-ritual khusus digunakan sebagai hewan kurban .
Setiap keberhasilan atau kemenangan,dilakukan perayaan dengan hewan kurban yang diberi nama-nama khusus.
Kumpulan beberapa hewan kurban yang terdiri dari kombinasi beberapa jenis hewan antara lain babi (sus) ,biri-biri (ovis) , sapi jantan (bull) disebut “souvetaurilia” .Sedangkan orang-orang yang mengurus hewan-hewan sakral yang akan dijadikan kurban tadi disebut “sou-vetaurinarii” yang kemudian diyakini sebagai lahirnya istilah “veterinarius”
Versi 2 :
Kemungkinan dari terminology lain yaitu masih di masa Romawi,dikenal hewan beban sebagai “veterina” dan suatu kamp penyimpanan hewan-hewan tersebut disebut “veterinarium”. Term “veterinarii” juga digunakan pada dukumen kuno sebagai “orang yang memiliki kekebalan khusus” karena memiliki “kompetensi khusus”.
Versi 3 :
Dari berbagai literature lain yang juga membahas istilah “Veterinarius“ diartikan sebagai orang-orang yang mengurus hewan beban/hewan pekerja.
Ada pula orang-orang ahli memasang ladam besi bagi hewan-hewan beban yang dikenal sebagai Ferrarius (Ferrum=besi). Karena terampil menangani kaki-kaki hewan, ada masa dimana para Ferrarius melakukan praktek mengobati hewan sakit.
Dalam jurnal American Veterinary Medical Association 1972, diuraikan sejarah bagaimana para “ilmuwan kedokteran” jaman dahulu memerlukan hewan coba untuk pengembangan ilmu kedokteran manusia,namun mereka memerlukan veterinarius untuk menangani hewan-hewan tersebut dan bukan Ferrarius.
Untuk itu ternyata diperlukan veterinarius yang berpendidikan agar memahami apa yang diperlukan. Kemudian timbulah gelar-gelar Ph.D(Doctor of Philosophy) yang merupakan awal dari para Veterinarius menjadi “medical doctor” atau “Doctor of Veterinary Medicine”.
Mythos dan legenda medis
Profesi kesehatan di zaman dahulu kala dimanapun, berakar dari Mythologi dan hal-hal gaib (magic). Di zaman Yunani kuno, cerita tentang dewa-dewa penyakit dan penyembuh antara lain Apollo, Chiron(digambarkan sebagai manusia berbadan kuda= centaur) dan murid-muridnya antara lain yang terkenal adalah Asklepios (latin:Aesculapius) seorang manusia biasa yang berkemampuan menyembuhkan penyakit manusia dan hewan.
Simbol dari Aesculapius adalah Ular (As) dan Melingkar (klepios) di batang pohon dimana ular tidak beracun ini merupakan lambang sacral cara penyembuhan zaman kuno. Symbol kedokteran kemudian mengambil dari symbol Aesculapius , sedangkan profesi kedokteran hewan (veteriner) ada yang mengambil Centaur atau Aesculapius
LAMBANG PROFESI VETERINER
Lambang profesi dokter hewan umumnya mencantumkan :
Huruf “V” Datang dari kata “veterinarius”
Bersamaan dengan lambang kedokteran (ular melingkari tongkat) .
Menggunakan centaur (manusia berbadan kuda sesuai mitos Yunani kuno)
Perilaku Profesi Medik
Sumpah Hippocrates menjadi inti dari sumpah-sumpah Kedokteran dan Tenaga Medis yang dikenal dengan :
“primum non nocere ”atau
“ di atas segalanya,jangan mencelakakan”
(above all ,do no harm)
Sumpah Hippokrates selanjutnya merupakan pedoman dalam nilai-nilai dan norma-norma perilaku para dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang melakukan layanan kesehatan pada manusia dan hewan.
Ciri profesi medik lainnya adalah : Memiliki Kode Etik Profesi, Layanan profesinya melalui perizinan yang berkaitan dengan jaminan kompetensi.
CIRI – CIRI PEKERJAAN PROFESI
Mengikuti pendidikan sesuai standar nasional
Pekerjaaannya berlandaskan etik profesi.
Mengutamakan panggilan kemanusiaan dari pada keuntungan
Pekerjaannya legal melalui perizinan
Anggota – anggotanya belajar sepanjang hayat.
Anggota – anggotanya bergabung dalam sebuah organisasi profesi.
Acuan Internasional dan Organisasi Internasional Bidang Veteriner
Untuk memudahkan pemahaman tentang kedokteran hewan / profesi veteriner, dapat diperbandingkan dengan kedokteran manusia sebagai berikut :
SIAPA YANG MENGGUNAKAN DOKTER HEWAN?
Pengguna jasa dokter hewan adalah pemilik hewan dimana kepemilikan hewan oleh manusia didasarkan pada beberapa hal:
Karena memiliki nilai ekonomi/ profit (hewan pangan/hewan produksi)
Karena nilai psikologis dan empati bagi pemilik perorangan (hewan hobby/ hewan kesayangan/companion animal)
Karena mempunyai fungsi pendukung khusus bagi negara (pengamanan dan penertiban) misalnya anjing pelacak dan kuda penertib dikeramaian (hewan pekerja milik negara).
Karena memiliki status khusus berdasarkan kesepakatan internasional sehingga merupakan satwa dilindungi (hewan/satwa konservasi)
Karena diperlukan untuk kemajuan penelitian ilmu kedokteran /pengetahuan lainnya (hewan laboratorium ).
LAYANAN DOKTER HEWAN SEBAGAI BERIKUT :
Menangani hewan pangan/farm animal
Menangani hewan hobby/kesayangan/kepentingan khusus
Menangani hewan liar/satwa liar termasuk untuk konservasi.
Menangani hewan aquatik/air untuk pangan dan konservasi
Menangani hewan laboratorium untuk ilmu kedokteran manusia dan ilmu pengetahuan lainnya.
II. Berdasarkan Keahlian Keilmuan
Dalam bidang praktisi medik veteriner terbagi atas praktisi hewan ternak dan praktisi spesies individu antara lain :
Ahli Bedah, Ahli Mata, Ahli Reproduksi, Ahli Penyakit Dalam, Ahli Dermatologi, Ahli Pathologi Klinik, Ahli Nutrisi Klinik, Ahli Akupunktur Veteriner, .
Dalam bidang veteriner/konsultan antara lain :
Ahli Epidemiologi, Ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ahli Kesehatan Daging, Ahli Kesehatan Susu, Ahli Mikrobiologi, Ahli Virologi.
Kompetensi Layanan Medis Veteriner Terhadap Hewan
Terdiri atas 2 kategori :
Layanan medik untuk hewan secara kelompok (herd health), hal ini umumnya di peternakan-peternakan dan oleh dinas-dinas pemerintah/puskeswan-puskeswan.
Layanan medik untuk hewan secara individual (individual health), hal ini umumnya pada praktisi hewan kecil, di kebun binatang dan hewan hobi.
Lapangan pekerjaan dokter hewan dapat menjadi PNS atau Swasta
Tetapi menurut OIE ada 33 bidang kerja dokter hewan di 110 negara :
Tantangan Global Profesi Dokter Hewan
Sebagai anggota WTO, dokter hewan Indonesia harus mempersiapkan konsekuensi perjanjian SPS yaitu:
Melindungi kehidupan atau kesehatan hewan di dalam wilayah setiap negara anggota dan resiko yang ditimbulkan dari masuk atau berkembangnya atau menyebarnya hama, penyakit, organisme pembawa penyakit atau organisme penyebar penyakit.
Melindungi kehidupan dan kesehatan manusia dari resiko yang ditimbulkan oleh bahan tambahan (additives), kontaminan, toksin atau organisme penyebab penyakit dalam makanan, minuman dan pakan (food bone diseases).
Melindungi kehidupan dan kesehatan manusia dari resiko timbulnya penyakit yang terbawa oleh hewan, atau produknya atau dari masuknya, berkembangnya, menyebarnya penyakit sampar (Pest)
Mencegah atau membatasi kerusakan lingkungan atau lainnya dari masuknya, berkembangnya atau menyebarnya hama penyakit (Pest)
ORGANISASI PROFESI DOKTER HEWAN DI INDONESIA
Organisasi profesi dokter hewan Indonesia adalah
PERHIMPUNAN DOKTER HEWAN INDONESIA (PDHI) atau
INDONESIAN VETERINARY MEDICAL ASSOCIATION (IVMA)
Didefinisikan sebuah organisasi Penentu Status Veteriner (Veterinary Statutory Body=VSB) yaitu suatu organisasi/badan yang berkewenangan otonom untuk melakukan pengaturan status keprofesian para dokter hewan dan para-profesional veteriner yang bersifat legal formal di dalam suatu negara (VSB diberbagai negara maju adalah organisasi profesi dokter hewan)
APA FUNGSI DAN PERAN DARI ORGANISASI PROFESI ?
Organisasi Profesi merupakan organisasi nasional yang mewakili dan melayani kepentingan profesi veteriner/dokter hewan di negaranya.
Organisasi profesi harus memiliki komitmen untuk mengupayakan pencapaian terbaik (excellence) dari profesinya dan untuk pelestarian hewan dan kelestarian ekosistem (manusia, hewan,tumbuhan,lengkungan).
Organisasi profesi wajib melakukan pencerahan publik (public awareness ) tentang manfaat dan pentingnya hewan dan dokter hewan bagi masyarakat bangsa dan negara.
ORGANISASI SEKEAHLIAN DI BAWAH PDHI (ORGANISASI NON TERITORIAL/ONT)
Ikatan Dokter Hewan Sapi Perah Indonesia
Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik dan Hewan Eksotik Indonesia
Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia
Asosiasi Kesmavet Indonesia
Asosiasi Pathologi Veteriner Indonesia
Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia
Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Laboratorium Indonesia
Ikatan Dokter Hewan Karantina Indonesia
Asosiasi Epidemiologi Veteriner Indonesia
Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Kuda Indonesia (dalam proses)
Contoh Organisasi Spesialis di bawah Organisasi Profesi Dokter Hewan di Inggris
ORGANISASI SPESIALIS BIDANG VETERINER TINGKAT DUNIA
ORGANISASI MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN DUNIA
PENGATURAN TANGGUNG JAWAB MELALUI KODE ETIK
Kode Etik Dokter Hewan akan mengatur Etika dalam hal :
Bagaimana berkomitmen terhadap profesi melalui citra diri yang bermartabat dan kompeten.
Bagaimana berkomitmen dalam menangani dan memperlakukan hewan (menegakkan kesejahteraan hewan / animal welfare).
Bagaimana membina hubungan keprofesian veteriner dengan sesama dokter hewan / sejawatnya.
Kode Etik Dokter Hewan Indonesia yang disahkan tahun 1994 walaupun belum sempurna (perlu revisi) namun telah mengatur tiga hal tersebut di atas.
TINDAKAN ETIKAL OLEH PROFESIONAL MEDIK VETERINER
Ada 4 bidang khas keilmuan profesi Medik yang harus dijunjung tinggi dan tidak secara sembarangan dialihkan tanggung jawab kewenangan dan penerapannya yaitu :
Bidang ilmu-ilmu Klinik.
Bidang Farmakologi Veteriner/Obat-obatan.
Bidang Pathologi.
Bidang Reproduksi.
Dalam pelaksanaan praktek,maka merupakan kombinasi dari 4 bidang ini. Sedangkan bidang lainnya merupakan ilmu-ilmu dasar dan ilmu penunjang yang berkembang melalui penelitian dan pengembangan teknologi.
ACUAN DASAR TINDAKAN PROFESIONAL MEDIK VETERINER (Guide to Professional Conduct)
Setiap Dokter Hewan perlu menyadari bahwa sebagai profesi yang berkeahlian khusus dan berkewenangan medis, bilamana di dalam negaranya belum diatur dengan kekuatan Undang-Undang, namun tetap harus tunduk kepada rambu-rambu Internasional profesi yang sama. Oleh karenanya setiap organisasi profesi sebagaimana PDHI wajib menerbitkan pedoman ini yang juga kemudian juga wajib dipatuhi oleh anggotanya.
RAMBU-RAMBU ETIK DALAM TINDAKAN PROFESIONAL MEDVET
Berkenaan memperlakukan hewan (tanggung jawab Kesrawan).
Berhubungan dengan pekerjaan profesinya.
Berkenaan dengan mempromosikan peran profesi veteriner kepada masyarakat.
Dalam periklanan layanan profesi medvet.
Berkenaan pengobatan (terapeutika), penggunaan obat-obatan, penjualan obat-obatan maupun alat kesehatan.
Dalam berbagai jenis Layanan Praktisi MedVet .
Dalam membina hubungan professional sesama profesi veteriner.
Keberadaan Badan/Majelis yang memiliki mekanisme dalam penyelesaian adanya masalah hukum dan etik.
1. Praktek klinik dan konsultan klinik.
Dokter hewan di klinik berkewajiban untuk memberikan layanan yang up to date (terkini), pengobatan yang terampil terhadap pasien dan layanan yang efisien. Diperlukan adanya standard untuk tempat, peralatan, fasilitas dan SDM.
Tampilan dokter hewan yang memberikan konsultasi harus memberikan kesan yang profesional yang terlihat dari kemampuan yang harus di standard, meliputi kemampuan bicara, kemampuan menjelaskan, perilaku dalam pelayanan dan kepakaran yang memberi nilai positif kepada reputasi profesi.
Pemilik hewan mempunyai hak untuk meminta konsultasi dokter hewan yang dia pilih akan tetapi dokter hewan tidak berkewajiban untuk menerima klien pada keadaan yang dapat menjelaskan dasar penolakan.
2.Dokter hewan dalam layanan publik (PNS)
Dokter hewan PNS mempunyai kewajiban – kewajiban kepada negara dengan pedoman – pedoman kerja sesuai aturan pemerintah dan adanya aturan hukum yang memayungi pekerjaannya.
Para dokter hewan ini dapat mempunyai kewenangan – kewenangan dan tanggung jawab yang harus dipahami dan dihargai oleh umumnya para dokter hewan.
Hubungan antara dokter hewan PNS layanan publik dan dokter hewan lain selaku sesama profesi haruslah berdasarkan kesejawatan profesi yang harmonis. Dalam hal ini harus saling menginformasikan demi kepentingan keselamatan dan kesehatan masyarakat.
Dalam melakukan layanan publik Drh PNS harus memiliki kompetensi yang terakreditasi, tersertifikasi dan tunduk kepada rambu – rambu profesi veteriner
3. Dokter hewan yang bekerja dalam industri atau bidang komersil.
Dokter hewan yang dipekerjakan atau menjadi karyawan diharuskan setia kepada perusahaan / atasannya. Namun demikian mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan standard etik dan kewajiban–kewajiban profesi untuk melawan setiap upaya yang meremehkan standard profesi yang ada demi kepentingan perusahaan / komersial.
Dokter hewan bisa terpojok menjadi kambing hitam dalam permasalahan, oleh karenanya dokter hewan berkewajiban menginformasikan dan menyarankan informasi teknis yang terbaik kepada atasannya.
4. Dokter hewan di dunia pendidikan.
Dokter hewan pendidik mempunyai kewajiban khusus untuk memastikan baik dengan mengarahkan maupun mencontohkan standard– standard tertinggi yang etikal dalam memper-kenalkan dan mempertahankannya diseluruh aspek kegiatan profesi.
5. Dokter hewan dalam penelitian
Diseluruh bidang riset yang melibatkan hewan, setiap dokter hewan yang terlibat harus berinisiatif untuk memastikan standard etik dan teknis yang tertinggi. Dokter hewan yang melakukan bedah percobaan atau menyiapkan hewan coba harus memastikan memiliki keterampilan bedah dan kompetensi yang memadai serta memenuhi persyaratan hewan coba yang distandardkan.
(sumber : kuliah PPDH Gel XV unair )
Selasa, 29 Maret 2011
Rabu, 22 September 2010
PENYAKIT LELE (Clarias. sp)
Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.
Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
Jenis hama/penyakit
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.
2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.
3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala:
(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari
5. Penyakit cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian:
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
Sumber : http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi
Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.
Jenis hama/penyakit
1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron.
Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air.
Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik.
Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.
2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya: tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip.
Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam.
Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.
3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.
Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah.
Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas.
Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit.
4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis)
Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala:
(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air;
(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang;
(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari
5. Penyakit cacing Trematoda
Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian:
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit;
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam;
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit;
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit;
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit.
6. Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala: pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah.
Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.
Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
Sumber : http://www.pustakatani.org/InfoTeknologi
PENANGGULANGAN PENYAKIT PADA LELE SANGKURIANG
Sama seperti ikan lainnya, lele sangkuriang tidak terlepas dari ancaman hama dan penyakit. Penyakit yang menyerang lele sangkuriang umumnya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang mendukung, misalnya kualitas air (terutama suhu) di bawah standar atau akibat stres karena penanganan yang salah sehingga ikan sakit. Sementara itu, hama yang biasa menyerang lele sangkuriang antara lain ular dan belut, sedangkan organisme patogen yang menyerang berupa Ichthiophthirius sp., Trichodina sp., Monogenea sp., dan Dactylogyrus sp.
Penanggulangan masuknya bibit hama dapat dilakukan dengan pemberian insektisida yang direkomendasikan pada saat pengisian air kolam, membersihkan pematang kolam, dan memasang plastik di sekeliling kolam. Penanggulangan organisme patogen dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan budi daya yang baik serta pemberian pakan yang teratur dan mencukupi. Pengobatan dapat menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan. pengelolaan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan persiapan kolam secara baik. Jika perlu memperbaiki kondisi air kolam dengan menambahkan bahan probiotik.
Pengobatan ikan yang suclah terserang penyakit dapat dilakukan dengan memberikan obat yang sesuai dengan jenis penvakitnya. Adakalanya, penyakit yang menyerang akan menular. Untuk mencegah hal ini, ada beberapa langkah langkah penyelamatan yang dapat dilakukan sebagai berikut. :
- Segera menangkap dan memusnahkan ikan yang terserang penyakit.
- Segera memindahkan ikan yang kondisinya masih sehat ke kolam lain dan mendesinfeksinya. Mengurangi padat penebaran.
- Jangan membuang air bekas ikan sakit ke saluran air.
- Keringkan kolam yang telah terjangkit penyakit, lalu bersihkan dasar kolam dari lumpur dan sisa bahan organic. Setelah itu Lakukan pengapuran menggunakan kapur pertanian (CaO) dengan dosis 1 kg/5 m2. Pengeringan dilakukan sampai dasar kolam retak¬-retak dan penebaran kapur dilakukan secara merata, termasuk di bagian tanggul.
- Lakukan pengisian air baru ke dalam kolam secara periodik.
- Alat tangkap dan wadah ikan harus dijaga agar tidak terkontaminasi penyakit. Begitu juga dengan tangan kita, harus didesinfeksi dengan mencucinya di dalam larutan PK. Desinfeksi alat dilakukan dengan mencelupkan ke dalam larutan kalium permanganat (PK) 20 ppm (1 gram dalam 50 liter air) atau larutan kaporit 0,5 ppm (0,5 gram dalam 1 m3 air).
- Berikan pakan yang bergizi tinggi dan tingkatkan daya tahan tubuh ikan dengan memberikan vitamin.
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. Agromedia Pustaka, 2008
SEJARAH PERKEMBANGAN PROFESI DOKTER HEWAN
SEJARAH PERKEMBANGAN PROFESI DOKTER HEWAN
PERKEMBANGAN DUNIA KEDOKTERAN HEWAN SEJARAH PENGOBATAN
Rudolf Vicrhow & William Osler (1978) : One Medicine (satu pengertian pengobatan). Comparative Medicine (pengobatan perbandingan) : Pengobatan kombinasi antara pengobatan manusia dan pengobatan hewan.
Medik veteriner
Ilmu tentang hewan dan penyakitnya (manusia termasuk di dalamnya)
Hakekatnya: Kedokteran Hewan maupun manusia merupakan bagian batang tubuh ilmu pengetahuan biomedis yang kemanfaatannya diaplikasikan untuk manusia dan hewan
Perkembangan ilmu pengobatan
Jaman Kuno : penyakit selalu dikaitkan dengan ketahayulan, mithologi, ilmu gaib dan agama
Para penyembuh (pd wkt itu) berpredikat “Pendeta Penyembuh”
Aesculapius dr kt. “Asklepios” (As=Ular, Klepios=melingkar di tongkat)
Aesculapius putra dewa Apollo murid dr Dewa Chiron (Centaur) digambarkan sbg manusia membawa tongkat dilingkari ular, tangan yg lain menggenggam tanaman berkasiat (simbol kefarmasian)
Pada 1000 SM pengobatan selalu dikaitkan dgn Supranatural
Dunia mengakui bhw ilmu kedokteran berakar dr Yunani kuno selain itu jg dari belahan bumi lain spt dirintis oleh bapak ilmu kedokteran Imohotep di Mesir
Perkembangan Pengobatan dari Tradisional menjadi Kedokteran Modern
Diawali dgn berbagai tradisi :
1. Tradisi Pendeta (priest-physican)
2. Tradisi ahli penyembuhan dgn kreativitas keterampilan manusia (artisan-physician)
3. Tradisi keilmuan penyembuh (scientist-physician)
Penganut Hippocrates : penyakit dlm tubuh didasarkan atas keseimbangan 4 cairan tubuh (humoral) > sbg landasan kedokteran s/d pertengahan abad 19 > Pemahaman dasar fisiologi sel dan teori mikroorganisme = ciri Kedokteran Modern
Perkembangan Ilmu Kedokteran manusia bersamaan dgn lahirnya ilmu2 kedokteran hewan
Kedokteran adalah PROFESI
Profesi dr bhs latin Profesio > Pengakuan thd suatu keahlian khusus yg memerlukan penjamian agar pengguna jasa tidak dirugikan
SEJARAH PERKEMBANGAN DOKTER HEWAN di INDONESIA
Zaman kuno > yg menangani kes.hewan selalu dihub.dgn “KUDA”
Zaman kerajaan Mojopahit > PEKATIK (yg merawat kuda)
Zaman Romawi dikenal Ferrier (pandai besi)
Sekolah Kedokteran Hewan atau “Ecole Veterinair”yang pertama di dunia di Lyon Perancis tahun 1761, yg kedua juga diperancis tahun 1766
Di Amerika yang pertama “ Devision of Veterinary Medicine of IOWA State Colledge of Agriculture and Mechanic Art” tahun 1879
Di Indonesia yang pertama “Indische Veeartzen School” (IVS) di Bogor tahun 1906
Tahun 1910 ditetapkan sebagai dimulainya kiprah Dokter Hewan pribumi di Indonesia
Sebelumnya dokter hewan yang berkiprah adalah dokter hewan militer dan kolonial belanda
Kiprah para dokter hewan karena wabah penyakit hewan spt surrah, anthrax SE, Rinderpest dan AE
Pendidikan Dokter Hewan di Surabaya tahun 1861 hanya 6 tahun
Sekolah Dokter hewan pertama di Indonesia didirikan tahun 1906 (dari MULO=SMP) tahun 1914 Nederlands-Indische Veeartzen School (dari HBS=SMA)
Setelah kemerdekaan Faculteit Kedokteran Hewan Universiteit Indonesia tahun 1946 menjadi Fak.Kedokteran Hewan IPB, tahun 1948 UGM
Tahun 1960 Universitas Syiah Kuala, Aceh, tahun 1972 (1970) Universitas Airlangga, tahun 1997 Universitas Udayana, tahun 2008 Universitas Brawijaya dan Universitas Wijayakusuma Surabaya
Rabu, 15 September 2010
Paus 13 Meter Terdampar di Dompu
Paus sepanjang 13 meter ditemukan terdampar di Pantai Jambu, Kecamatan Pajo, Dompu, kemarin (15/7). Sehari sebelumnya, mamalia laut itu berputar-putar di Pantai Jala, Kecamatan Hu’u, Dompu. Karena itu, seharian tersebut warga Jala menunggu paus tersebut terdampar di sana. Ternyata, hewan raksasa itu malah terdampar di Pantai Jambu.
”Malamnya ikan (red: banyak masyarakat yang masih menganggap paus sebagai ikan, padahal seharusnya mamalia) itu menyembur-nyemburkan air setinggi beberapa meter. Kami sempat ketakutan juga,” ujar Sukri, salah seorang nelayan di Pantai Jambu, kemarin.
Paginya, menurut Ilham, nelayan lain, paus tersebut sudah terdampar di pinggir pantai, mati. Mendengar itu, warga berbondong-bondong ke lokasi. Mereka membawa parang, kapak, pisau, dan benda tajam lain untuk mengambil daging paus itu. ”Daging paus ini diambil ratusan warga sejak pagi hingga sore. Tapi, baru sebagian kecil saja yang berkurang,” kata Sulaiman, warga Hu’u.
Nelayan dan warga lain mengatakan gembira ada paus terdampar di desa mereka. Sebab, saat ini warga sedang kesulitan mendapatkan ikan gara-gara angin dan gelombang tidak bersahabat. ”Untung ada paus ini,” kata Maryam, warga Jala, sambil menenteng daging ikan dengan ember.
Bupati Dompu H Syaifurrahman Salman SE MSi dan rombongan yang kebetulan berkunjung ke Kecamatan Hu’u menyempatkan diri melihat langsung. Kapolres Dompu AKBP Kumbul KS SIK bersama rombongan bahkan sengaja datang ke lokasi hanya untuk menyaksikan paus tersebut.
Petugas perikanan setempat menyatakan kemungkinan paus itu terhempas karena gelombang besar dan tidak mampu kembali ke pantai. Paus tersebut berbobot sekitar 20 ton. Sayang, tidak dijelaskan jenis paus tersebut.
Pemahaman masyarakat terhadap mamalia ini cenderung masih kurang. Beberapa lembaga sebenarnya telah mengeluarkan panduan tanggap terhadap kejadian terdamparnya paus.
sumber : Jawa Post
”Malamnya ikan (red: banyak masyarakat yang masih menganggap paus sebagai ikan, padahal seharusnya mamalia) itu menyembur-nyemburkan air setinggi beberapa meter. Kami sempat ketakutan juga,” ujar Sukri, salah seorang nelayan di Pantai Jambu, kemarin.
Paginya, menurut Ilham, nelayan lain, paus tersebut sudah terdampar di pinggir pantai, mati. Mendengar itu, warga berbondong-bondong ke lokasi. Mereka membawa parang, kapak, pisau, dan benda tajam lain untuk mengambil daging paus itu. ”Daging paus ini diambil ratusan warga sejak pagi hingga sore. Tapi, baru sebagian kecil saja yang berkurang,” kata Sulaiman, warga Hu’u.
Nelayan dan warga lain mengatakan gembira ada paus terdampar di desa mereka. Sebab, saat ini warga sedang kesulitan mendapatkan ikan gara-gara angin dan gelombang tidak bersahabat. ”Untung ada paus ini,” kata Maryam, warga Jala, sambil menenteng daging ikan dengan ember.
Bupati Dompu H Syaifurrahman Salman SE MSi dan rombongan yang kebetulan berkunjung ke Kecamatan Hu’u menyempatkan diri melihat langsung. Kapolres Dompu AKBP Kumbul KS SIK bersama rombongan bahkan sengaja datang ke lokasi hanya untuk menyaksikan paus tersebut.
Petugas perikanan setempat menyatakan kemungkinan paus itu terhempas karena gelombang besar dan tidak mampu kembali ke pantai. Paus tersebut berbobot sekitar 20 ton. Sayang, tidak dijelaskan jenis paus tersebut.
Pemahaman masyarakat terhadap mamalia ini cenderung masih kurang. Beberapa lembaga sebenarnya telah mengeluarkan panduan tanggap terhadap kejadian terdamparnya paus.
sumber : Jawa Post
Langganan:
Postingan (Atom)